Gerakan Indonesia Membaca dalam Bingkai Negara Kesatuan

Laporan hasil survei UNESCO pada tahun 2011 indeks minat baca masyarakat Indonesia masih termasuk rendah, yaitu melulu 0,001 persen. Ini dengan kata lain hanya satu orang dari 1000 warga yang masih memiliki minat baca yang tinggi. Selain tersebut pada Maret 2016 lalu, Most Literate Nations in the World, sudah merilis pemeringkatan literasi internasional. Dalam pemeringkatan tersebut, Indonesia sedang di urutan ke-60 dari 61 negara yang disurvei (www.jurnalasia.com). Laporan-laporan ini pasti saja menciptakan seluruh komponen bangsa merasa kecil hati sekaligus miris. Wajah anda sebagai bangsa, yang sedang tumbuh dan berkembang terasa ditampar di hadapan dunia yang sedang lari kencang dengan segala kemajuannya. Jangankan dikomparasikan dengan negara-negara maju di area Eropa dan Amerika, dikomparasikan dengan negara-negara sekawasan (baca: Asia Tenggara) saja peringkat minat baca anda tetap berada di bawah.

Laporan hasil survei-survei ini begitu menjadi perhatian besar semua elemen bangsa. Hal ini mengindikasikan begitu pentingnya pekerjaan membaca ini. Ada sebuah pepatah yang berbunyi “Buku ialah jendela dunia”, maka guna membukanya ialah dengan teknik Cara Belajar Membaca. Di samping itu, menyimak adalahsalah satu dari empat keterampilan yang mesti dikuasai dalam berbahasa. Di dalam ilmu linguistic, menyimak (reading), bersama-sama dengan memperhatikan (listening) dikategorikan sebagai receptive skills, yaitu keterampilan untuk menerima informasi dan ilmu pengetahuan. Receptive skills ini paling menilai dalam penguasaan dua keterampilan berbahasa yang lain, yaitu mencatat (writing) dan berkata (speaking). Kedua keterampilan ini dikategorikan sebagai productive skills.

Bahkan di dalam agama Islam misalnya, perintah menyimak adalahwahyu kesatu kali diturunkan sebelum wahyu-wahyu lainnya oleh Allah SWT untuk Nabi Muhammad SAW melewati malaikat Jibril untuk dikatakan kepada umat manusia. Wahyu ini tertuang dalam surat Al’alaq ayat 1, yakni iqra (bacalah). Hal ini mengindikasikan betapa pentingnya pekerjaan membaca. Membaca yang dimaksud pasti saja tidak melulu dalam definisi sempit, tetapi pun dalam definisi luas. Dalam definisi sempit membaca dilaksanakan dengan teknik membaca secara tekstual, sementara dalam definisi luas menyimak dapat ditafsirkan secara kontekstual.

Kualitas seseorang salah satunya dapat dilihat dari bagaimana teknik merespon atau bersikap terhadap suatu kondisi dan kondisi. Pun dalam merespon laporan-laporan survei ini, yang sangat penting ialah bagaimana anda bersikap dan bertindak. Apa yang dapat kita -sebagai bangsa- kerjakan untuk menempatkan pekerjaan membaca sebagai salah satu pekerjaan yang sangat penting dalam mengakses ilmu pengetahuan dan teknologi.

Oleh sebab itu, anda harus bahu-membahu dalam menanamkan kepedulian terhadap pentingnya pekerjaan membaca. Di samping itu, dibutuhkan gerakan massive dan terstruktur yang melibatkan semua elemen bangsa. Secara garis besar gerakan menyimak ini mesti saya dan anda lakukan di 5 tatanan, yaitu: tatanan keluarga, institusi pendidikan, lokasi kerja, lokasi umum, dan pemerintahan.

Tatanan kesatu yakni keluarga. Keluarga ialah lingkungan kesatu dan utama guna menumbuhkan minat baca pada anak yang paling efektif. Ada suatu syair Arab yang berbunyi “Al ummu madrasatul ula” Ibu ialah sekolah kesatu. Keluarga ialah lingkungan terkecil dan terdekat dengan anak-anak, sehingga pertumbuhan minat baca mereka dapat dikontrol dan diarahkan. Orangtua dapat membuat program gerakan menyimak yang simpel dan unik yang melibatkan semua anggota keluarga.

Tatanan kedua ialah institusi pendidikan. Sebagai suatu lembaga yang secara eksklusif didirikan guna mencerdaskan kehidupan bangsa, telah sepatutnyalah institusi edukasi menjadi garda terdepan dalam menumbuhkan minat baca. Ciptakanlah lingkungan sekolah yang memiliki kebiasaan baca yang tinggi.

Tatanan ketiga ialah tempat kerja. Tempat kerja yang baik ialah tempat kerja yang senantiasa meluangkan tempat dan peluang para pekerjanya guna membaca. Sehingga memungkinkan semua pekerjanya bisa meng-update segala informasi yang sedang terjadi.

Tatanan keempat ialah tempat umum. Belakangan ini telah mulai semakin banyak pojok-pojok baca di tempat-tempat umum, laksana di mall, taman, bandara, lokasi olahraga dan beda sebagainya. Hal ini diinginkan dapat menambah minat baca masyarakat.

Tatanan yang kelima ialah pemerintahan. Pemerintahan adalahtatanan yang memiliki tanggung jawab yang paling besar dalam menambah minat baca bangsa Indonesia. Pemerintah pusat sampai wilayah harus mempunyai political will yang tinggi dalam upaya menambah minat baca masyarakat, melewati peraturan perundang-undangan dan kebijakan-kebijakan yang dibuatnya.

Yang sangat penting dari seluruh itu ialah konsistensi dan keberlanjutan dari program-program yang telah, sedang, dan bakal dilaksanakan. Sudah saatnya semua elemen bangsa -dalam bingkai negara kesatuan- bahu-membahu mengerjakan upaya menambah minat baca melewati peran dan tanggungjawabnya masing-masing, sampai-sampai pada kesudahannya bangsa Indonesia memiliki tingkat literasi yang tinggi tidak kalah oleh bangsa-bangsa beda di dunia.

 

 

 

 

 

Cara Mengajar Membaca Permulaan

 

 

 

Membaca permulaan adalahsalah satu materi latihan yang diserahkan kepada anak sekolah dasar (SD) ruang belajar 1. Kemahiran menyimak permulaan adalahkunci pendahuluan jendela ilmu pengetahuan. Efektivitas teknik guru mengajar menyimak permulaan, akan paling menilai keahlian anak dalam menyimak permulaan. Banyak teknik yang dapat dilaksanakan untuk menuntun anak atau melatih anak belajar menyimak permulaan. Teknik menyimak permulaan ALBA (Abjad Langsung Baca) adalahsalah satu teknik yang dapat dipakai untuk mengajar anak belajar menyimak permulaan. Teknik ini dirancang supaya anak gampang belajar menyimak permulaan dan dalam masa-masa singkat anak bakal cepat mahir menyimak permulaan.

Materi pelajaran menyimak permulaan kiat ALBA dibentuk menurut suku kata. Oleh karena tersebut prinsip dasar dari Teknik Gerakan Membaca Permulaan ALBA (Abjad Langsung Baca) ialah tidak terdapat pengejaan huruf. Anak diminta guna membunyikan atau mengeja suku kata. Terdapat dua tahapan teknik mengajar menyimak permulaan dengan Teknik ALBA. Tahap kesatu dinamakan dengan TLT (Tunjuk, Lafalkan, Tirukan). Tahap kedua dinamakan BMD (Baca Mandiri Dampingi). TLT dilaksanakan untuk Latihan 1, sementara BMD dilaksanakan untuk Latihan 2, 3, dan 4.

Tahap TLT dimulai oleh guru (G) dengan menunjuk suku kata, lantas guru mengeja suku kata yang ditunjuk tersebut. Setelah tersebut murid (M) diminta guna menirukan atau mengucap ulang bunyi suku kata yang disebutkan guru. Lakukan tahapan ini berulang-ulang hingga murid dapat mengeja suku kata yang ditunjuk oleh guru tanpa mesti diberi misal terlebih dahulu. Jangan lanjutkan ke pelajaran berikutnya, bila Latihan 1 belum dikuasai dengan baik oleh murid. TLT pada Latihan 1 (Contoh Latihan 1 guna suku kata ba), dapat mengekor 17 Pola Latihan ALBA.

Membaca permulaan adalahsalah satu materi latihan yang diserahkan kepada anak sekolah dasar (SD) ruang belajar 1. Kemahiran menyimak permulaan adalahkunci pendahuluan jendela ilmu pengetahuan. Efektivitas teknik guru mengajar menyimak permulaan, akan paling menilai keahlian anak dalam menyimak permulaan. Banyak teknik yang dapat dilaksanakan untuk menuntun anak atau melatih anak belajar menyimak permulaan. Teknik menyimak permulaan ALBA (Abjad Langsung Baca) adalahsalah satu teknik yang dapat dipakai untuk mengajar anak belajar menyimak permulaan. Teknik ini dirancang supaya anak gampang belajar menyimak permulaan dan dalam masa-masa singkat anak bakal cepat mahir menyimak permulaan.

Materi pelajaran menyimak permulaan kiat ALBA dibentuk menurut suku kata. Oleh karena tersebut prinsip dasar dari Teknik Membaca Permulaan ALBA (Abjad Langsung Baca) ialah tidak terdapat pengejaan huruf. Anak diminta guna membunyikan atau mengeja suku kata. Terdapat dua tahapan teknik mengajar menyimak permulaan dengan Teknik ALBA. Tahap kesatu dinamakan dengan TLT (Tunjuk, Lafalkan, Tirukan). Tahap kedua dinamakan BMD (Baca Mandiri Dampingi). TLT dilaksanakan untuk Latihan 1, sementara BMD dilaksanakan untuk Latihan 2, 3, dan 4.

 

Tahap TLT dimulai oleh guru (G) dengan menunjuk suku kata, lantas guru mengeja suku kata yang ditunjuk tersebut. Setelah tersebut murid (M) diminta guna menirukan atau mengucap ulang bunyi suku kata yang disebutkan guru. Lakukan tahapan ini berulang-ulang hingga murid dapat mengeja suku kata yang ditunjuk oleh guru tanpa mesti diberi misal terlebih dahulu. Jangan lanjutkan ke pelajaran berikutnya, bila Latihan 1 belum dikuasai dengan baik oleh murid. TLT pada Latihan 1 (Contoh Latihan 1 guna suku kata ba), dapat mengekor 17 Pola Latihan ALBA.

 

Pada etape BMD, berikan kesempatan untuk murid guna membaca kitab alba secara berdikari sambil didampingi guru. Bila murid mengerjakan kesalahan, tidak boleh langsung diperbaiki oleh guru. Gunakan Latihan 1, sebagai pengingat.

 

Materi dalam kitab alba telah dibentuk secara sistematis dari yang simpel ke yang kompleks. Oleh karena tersebut gunakan kitab alba secara berurutan dari Buku 1 hingga dengan Buku 5. Bila siswa belum fasih membaca pada di antara buku, tidak boleh dilanjutkan ke kitab berikutnya.

Disarankan supaya latihan alba dilaksanakan kurang lebih 15 menit masing-masing kali latihan, kecuali siswa meminta ekstra waktu. Dalam satu hari murid bisa melakukan pelajaran alba lebih dari satu kali. Durasi masa-masa yang diperlukan supaya murid dapat menyimak permulaan dengan fasih untuk masing-masing kitab kurang lebih 6 jam. Dengan demikian Buku 1 hingga dengan Buku 5 dapat ditamatkan dalam durasi waktu tidak cukup lebih 30 jam.